Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku
Aku tak pernah takut dengan kesendirian karena aku memiliki sahabat taat dalam Istiqomahku

Selasa, 12 Desember 2017

Memupuk dan Menumbuhkan Diri dalam Dakwah



“Kau tahu, betapa diri ini terasingkan dengan lingkungan yang ku temukan. Tapi baru kali ini ada keterpaksaan yang menyenangkan, ada pahit yang menjadi lezat, ada guntur yang menghadiahkan pelangi.”
Di semester satu aku bergabung di organisasi ekstra. Mungkin jika dikatakan aktif, diriku aktif. Namun, setelah semester dua yang mengharuskan aku tinggal di Asrama Putri (Aspi) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta aku lebih sibuk dengan kegiatan asrama di setiap malam juga disibukkan dengan dunia kegalauan  karena sedang ‘beradaptasi’ dengan dunia hijrah.
Saat semester awal, teman dekatku rutin setiap jum’at untuk mentoring. Setiap aku tanya hendak pergi ke mana, mereka selalu menjawab ‘mentoring’. Ada hal yang membuat hatiku perih mendengarnya. “Oh, mentoring.”
Tidak jarang di Musholla akhwat  lantai dua FITK diramaikan dengan wanita-wanita berbusana rapi dengan asiknya berbincang-bincang. Terdapat  kedekatan yang amat dari mereka saat saling menatap wajah lawan bicaranya. Beberapa akhwat lain pun ada yang sedang tilawah Al-Qur’an. Pemandangan itu aku lihat bukan sekali atau dua kali, namun seringkali setiap aku mengunjungi atau hanya sekedar lewat musholla akhwat lantai dua.
Saat itu aku berfikir akan menjadi akademisi saja, itu diakibatkan karena padatnya jadwal praktikum dan pembinaan-pembinaan  wajib di Aspi. Ada salah satu teman kelasku yang juga tinggal Aspi, dia anak Lembaga Dakwah Kampus, mentoringnya rajin setiap pekan. Suatu malam dia menghampiriku dan menceritakan keseruan beraktivitas di Lembaga Dakwah Kampus. Katanya saat ini dia berada di Komisariat Dakwah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. “LDK?” yang terbayangkan dalam pikiranku adalah LDK Al-Huriyyah IPB, LDK Salman ITB, dan LDK Salam UI; bukankah itu keren? Tapi, di kampus UIN ini ada LDK juga?
Saat itu aku masih menjadi mahasiswa yang termakan doktrin yang tersebar luas di masyarakat umum, bahwa UIN adalah ‘LIBERAL’, itulah statemant yang tumbuh dalam diriku dan mendeskripsikan LDK adalah hal yang sama seperti yang aku pikirkan. “Tapi, program LDK ada mentoringnya juga? Terus, mentoring LDK itu yang kaya gimana? Sepertinya beda dari yang aku tahu!”
LDK Komda FITK melakukan Open Recruitment. Hatiku masih bimbang antara ikut atau tidak. Namun, karena ada beberapa teman kelasku yang mengikuti Latihan Kader Dakwah Istimewa (LKDI) aku pun memutuskan untuk ikut. Aku ingin membuktikan apakah LDK seperti yang aku sangka sebelumnya. Acara LKDI dilakukan serempak di seluruh Fakultas di UIN Jakarta. FITK bergabung dengan Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) yang diadakan pada Jum’at sore hingga Ahad siang di Sekolah Alam, Parung.
Banyak hal yang harus aku paksakan dalam agenda ini. Ya, pemaksaan yang baik. Setiap detik watu harus dimanfaatkan dengan baik. Memang bukan termasuk dalam rundown acara panitia, namun diingatkan untuk tilawah setiap waktu kosong, menyedikitkan berbicara dan bersunda gurau, dan memperkenalkan cara berkomunikasi dengan lawan jenis yang langsung dicontohkan oleh kakak-kakak panitia tanpa diagendakan dan tanpa memerintah; itu semua berjalan dengan rapi tanpa rekayasa. Ketika sedikit saja lengah terhadap waktu, aku diingatkan, “Dek, lebih baik tilawah” karena targetan selama LKDI hingga usai adalah selesai membaca Al-Qur’an sebanyak 3 juz.
Materi-materi yang disampaikan pada LKDI serupa dengan kebutuhan pergaulan kampus. Walaupun masih dikategorikan mahasiswa baru, namun saat itu sedikit banyak tahu dari cerita beberapa orang yang sudah berkecimpung di kehidupan kampus, khususnya UIN Jakarta. Sehingga timbullah persepsi, bahwa ternyata di kampus yang Islami ini belum tentu semua orang di dalamnya memahami Islam secara utuh. Justru, kampus yang berlebel Islam ini, terdapat banyak pemahaman-pemahan Islam yang berbeda menjadi tantangan tersendiri. Apalagi, terhadap mereka yang menamakan Islam tetapi secara pergaualan kehidupan sehari-harinya tidak mencerminkan nilai-nilai keislaman.
Selain itu, ternyata banyak ancaman-ancaman yang dihadapi oleh orang-orang muslim yang berusaha menjaga kesucian keislamannya. Tantangan-tantangan itu bisa datang dari luar, seperti orang-orang yahudi dan nasrani yang menjajah umat Islam dari sisi pemikiran yang disebut gzhowzul fikr. Mungkin saja tantangan itu datang dari umat islamnya sendiri, yaitu orang-orang munafik yang ingin menghancurkan Islam dari dalam.
Rasulullah saw. sewaktu bersama dengan para sahabatnya pernah berkata: “Akan datang suatu masa di mana bangsa-bansa lain akan menyerbu kalian (kaum muslim) seperti orang –orang yang menyerbu hidangan yang ada di hadapannya.” Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah hal itu dikarenakan jumlah kita yang sedikit pada waktu itu, ya Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab: “Tidak! Jumlah kalian saat itu besar, tetapi kalian saat itu seperti buih yang ada di lautan. Dan Allah akan menghiangkan dari hati musuh-musuhmu ‘ketakutan terhadap dirimu’ dan Allah akan memasukkan ‘Al-Wahn’ ke dalam hatimu.” Sahabat yang lain bertanya, “Apa itu ‘Al-Wahn’ ya Rasulallah?” rasulullah saw. berkata, “Al-Wahn adalah cinta dunia dan takut mati.”
Rasa-rasanya, ramalan Rasulallah itu terjadi saat ini. Jumlah kaum muslimin banyak, tetapi mereka sedang tertidur; diam saat terjadi kerusakan pada islam, agamanya sendiri. Buih di lautan itu adalah pengibaratan sesuatu tak berdaya. Buih memiliki jumlah yang banyak, tetapi tidak ada kekuatan untuk menghadapi sapuan air di sekeilingnya; buih hanya bisa mengikuti air.
LKDI membuka jalan pikiranku dan membantah rencana awal; menjadi akademisi saja. Jika merenungi keadaan umat islam saat ini, yang sedang dilahap oleh para zionis yang merusak moral generasi islam, bukan lagi saatnya untuk berdiam diri, “kamu harus punya kontribusi untuk agamamu!” begitulah kira-kira kalimat yang menyelusup dalam relung jiwa.
Maka, perlulah suatu wadah untuk menyatukan pemuda-pemuda Islam yang masih memiliki nurani dan keberpihakan kepada panji Islam ini. Ketahuilah, bahwa dalam keadaan yang seperti ini maka panji Islam telah lama terkulai, membutuhkan tangan-tangan perkasa yang mau bergerak untuk menegakkan kembali panji kejayaan Islam. Dan dari LKDI ini, bekal awal yang aku dapatkan sehingga memicu untuk bangkit, bersemangat, terus belajar, dan istikomah; walau merupakan awal yang sulit, dan tentunya banyak kerikil-kerikil dalam setiap prosesnya. Nikmatilah!

Senin, 11 Desember 2017

Pergi

Aku tidak pernah menuntut orang-orang yang pergi dariku untuk kembali.

Ada dua cara penerimaan dari kepergian; ikhlas dan tidak

Apa contohnya kepergian yang ikhlas? Melepaskan dia yang merusak harga diri. Pergi untuk memperbaiki diri; entah sama-sama berusaha atau hanya disatu belah pihak saja.

Apa contohnya kepergian yang tidak diikhlaskan? Ketika kepergian meninggalkan pertanggung jawaban. Tidak bisa menuntut untuk kembali; buktikan saja bahwa ada pesenyesalan karena meninggalkan.

Hikmahnya, pada setiap pergi dan datangnya seseorang itu sudah Allah rencanakan. Baik yang ikhlas atau tidak. Pasti ada pelajaran di balik itu semua. Entah karena Allah menguji kesabaran kita, sejauh mana hamba-Nya tawakkal kepada Allah, atau Allah ingin melihat hamba-Nya bersyukur sebab apa yang Allah gariskan. Berhusnudzhonlah, menguatlah :')

Minggu, 10 Desember 2017

"Uhibbuki Fillah"

Lantas, yang dikatakan "Mencintai karena Allah" itu seperti apa? Kapan kita akan memiliki itu?

Apakah akan semudah itu percaya ketika seseorang datang dan  mengatakan, "Ana uhibbuki Fillah" ?

Cinta
Bukan cinta ketika alasannya bukan karena-Nya. Allah adalah pemilik cinta terbesar di jagat raya ini. Alam semesta beserta isinya, kita dan orang-orang yang ada di sekeliling yang meramaikan kehidupan, adalah bukti cinta Allah kepada makhluk-Nya; tanpa terkecuali.

Lalu cinta bagi hamba itu seperti apa?
Yaitu, yang memberikan ruh nan suci ke dalam hati-hati setiap insan sehingga menggerakkan diri mereka melakukan kemaslahatan; utuk dirinya, keluarganya, bahkan orang-orang yang berada di sekitarnya. Tidak ada kefasikan (kerusakan) yang terjadi. Menentramkan, dan lebihnya adalah meningkatkan ketaatan.

Ketika rasa itu datang, bersegeralah libatkan Allah. Jadikan Allah pengatur hatimu, "yaa muqallibal quluub tsabit qalbii 'alaa diinik wa thaa 'atik."

Karena "Uhibbuki Fillah" adalah ketika rasa yang biasa saja (bukan tersebab terbiasa) lantas dengan keberanian, dengan cara yang Haq, dan terikat dengan janji yang suci, ketika itulah "Fillah" datang menghiasi hati-hati yang mencinta.

Sungguh indah cinta yang dikarenakan Allah 💙

Keluarga Cemara, Keluarga ke Surga

    Banyak sekali untaian kisah yang menjadi cerita pada judul ini. Sebenarnya mereka itu siapa? Mereka adalah akhwat-akhwat tangguhku yang mewarnai perjalanan dakwah di LDK. Mereka adalah garda terdepan yang menjadi jawaban-jawaban atas permasalahan yang terjadi. Responsif dan cepat tanggap. Sebab merekalah, aku menjadi diri sendiri. Kami sering mengoreksi diri masing-masing dengan terbuka, dan tanpa perjanjian kami tidak pernah sakit hati ketika dikoreksi, karena kami yakin apa yang dibicarakan adalah untuk membangun diri dan kebaikan untuk ke depannya.
            Kami memang berbeda divisi, tetapi jika satu divisi memiliki permasalahan kami semua turun tangan. Jangankan untuk meminta pertolongan, bahkan sebelum “tolongin dong” mereka sudah bertanya “apa yang harus aku bantu?” karena sejatinya LDK adalah kami, bukan dipisahkan oleh divisi-divisi.
            Sejujurnya, dari merekalah pertama kali aku memiliki keterikatan hati yang kuat. Walaupun pada perjalanan kami, timbul ungkapan “Ukhuwah tertinggi adalah bully!” mengalahkan itsar (hahaha). Memang pada kenyataannya, dengan bulliying kami menjadi mengenal lebih jauh masing-masing diri, dan tidak pernah ada sakit hati di antara kami.
            Kami beberapa kali menciptakan waktu untuk berkumpul bersama pada suatu malam untuk sharing; permasalahan divisi, tugas kampus, kabar keluarga, hingga cita-cita. Bermalam hingga fajar, sebelumnya kami shalat disepertiga malam. Hingga rasanya aku ingin malam berjalan lama agar matahari enggan datang, karena malam itu terlalu indah untuk ditinggalkan; malam itu menciptakan kekuatan.
            Kalau bukan karena kepedulian tentang ukhuwah dan dakwah, apa lagi alasan kami berkumpul malam itu? Merumuskan regenrasi dalam estafeta dakwah, membicarakan strategi dakwah fakultas, saling menguatkan dengan tangisan dan tawa yang yang menghiasi bercakapan dan perbedatan kami.
            Seperti halnya dalam keluarga, ada yang dituakan dan dikanak-kanakan, yang tidak ada adalah yang dibapakkan karena tidak ada ikhwan di antara kami (hehehe). Ada penasihat terbaik di anatara kami, sebut saja dia Kak Wan. Sepak terjang dakwahnya sudah melalang buana jauh di antara kami. Memang sedikit menyebalkan ketika mempertahankan opininya, namun pendapatnya sering di iya-kan. Ada juga Mbak Yu, sosok yang super sabar dan penyayang; sering menjadi penengah ketika memecahkan permasalahan Komda, penyampaiannya tenang dan ruhiyyahnya patut untuk dicontoh. Dik Pus dan Ka Nie, mereka adalah aktivis sospol yang getol. Kekuatan mereka tidak perlu dipertanyakan, mereka yang sering menggunakan malamnya untuk memikirkan kemaslahatan umat di kampus #eaa. Nuga, siapa pula dia? Dia adalah sosok akhwat tangguh. Sahabat taat yang pertama kali aku miliki sejak bertemu di lingkar mentoring pertama kali. Lalu Rela, yang Allah siapkan untuk jiwa syiar yang menyenangkan. Dia yang membuat suasana di anata kami tergelitik dengan tingkah yang konyol dan sedikit baperan (hehe). Dhea adalah sosok penguat karena dia berada satu divisi denganku. Ia bergerak cepat dengan laporan-laporan divisi sehingga mendorong diriku yang lambat dalam tugas kesekretariatan. Hastin yang to the point, simpel, dan perhatian. Ani, dia sosok yang baik hati dan responsif ketika di antara kami membutuhkan bantuan dan sosok yang dewasa. Saliha dan Asih sosok yang tenang dan cerdas, dan Wani akhwat yang tenang, baik, dan pengertian.
            Bukan berarti tidak ada kekurangan yang mereka dan aku miliki. Tentunya sebagai manusia yang tidak sempurna memiliki khilaf dan kekurangan diri, namun itulah istimewanya mereka; saling menasehati dalam kebaikan sehingga kekuranganku bisa tertutupi oleh mereka.Ssebab mereka itulah aku berani berjalan lebih jauh di jalan dakwah ini. Terima kasih ukhties tangguh, semoga kebersamaan ini tak berakhir hingga surga, ketika bercerai jasad dan nyawa.

Jumat, 08 Desember 2017

Virus Merah Jambu bagi Aktivis Dakwah


             Salah satu alasan kenapa di LDK sangat menjaga interaksi antara ikhwan dan akhwat adalah menghindari terjangkitnya Virus Merah Jambu (VMJ). Ada sebuah pengalaman, dalam satu lift sangat dihindari berduaan ikhwan dan akhwat. Hingga pada suatu hari, aku hendak ke lantai 7 FITK dari mushalla lantai 2. Ada ikhwan menunggu depan lift aku berdiri agak jauh. Saat pintu lift terbuka, ternyata di dalamnya kosong. Aku maju dengan keyakinan kalau si ikhwan akan mengalah, eh ternyata si ikhwan juga mengarah masuk ke dalam lift, yaudah aku mundur. Saat aku mundur si ihwan juga ikutan mundur, jadilah aku dan si ikhwan naik tangga karena liftnya sudah tertutup (hehe).
Virus Merah Jambu itu menjadi penyakit dakwah, kenapa? Karena dengan terjangkitnya hati seorang penggiat dakwah dengan benih-benih ketertarikan pada lawan jenis akan melayukan semangat. Virus ini mampu mengotori niat yang awalnya baik menjadi belok.
Pada awalnya aku berpikiran yang tidak terlalu mempermasalahkan tentang VMJ ini. Maksudku, kalau sekedar suka itu hal yang wajar, asalkan tidak diungkapkan dan berlanjut ke pacaran. Namun ini bukan yang sesimpel yang aku bayangkan ternyata. Untuk menyukai lawan jenis pun harus segera dikontrol atau bahasanya di keep! Karena jika sudah melewati batas kewajaran bagi seorang aktivis dakwah, bisa berdampak pada kondisi dakwahnya; kacau! Semangat jihadnya melemah, amanahnya ditinggalkan, teman-teman shalihnya dijauhkan, tilawahnya terkendorkan, sehingga berdampak pada jasadiyahnya.
“Anak LDK itu kalau Syuro pakai hijab, mana mungkin bisa suka-sukaan!” Ah, yang bener? Bukankah malah itu yang membuat penasaran? Ada saja beberapa orang yang ‘jail’ bermain mata! (Astaghfirullah). Sekarang pernyataannya adalah, anak LDK saja yang berusaha untuk menjaga masih ada aja yang jail, apalagi di luar sana yang bebas bergaul dengan lawan jenis?
Dari LDK inilah aku belajar bahwa Virus Merah Jambu adalah musuh aktivis dakwah, karena tidak sedikit aktivis dakwah yang berguguran karena virus yang membunuh karakter ini! Ini adalah salah satu cara sederhana untuk menjaga diri.
Inget ya, LDK bukan ajang cari ikhwan atau akhwat yang baik buat jadi teman hidup. LDK adalah wadah memperbaiki diri dan lingkungan sekitar, kalau memang mendapatkan anak LDK juga, itu berarti bonus dari Allah (hehehe ^^). Kalau soal VMJ anak LDK harus udah kebal! “Ah, daripada mikirin doi mending mikirin umat!” Nah, ini keren banget. Luruskan niat, penuhi hati dengan cahaya iman. Percayalah pada Allah Sang Maha Cinta yang mempersiapkan segala yang terbaik untuk hidup kita.

Selasa, 21 November 2017

Kisah Madal Hayah yang Menjadi Teladan

Beliau hadir di dunia pada tanggal 17 Januari 1973.  Sejak kecil, ia sudah belajar dari kehidupan yang keras. Beranjak dewasa ia menjadi gadis yang cantik. Perawakannya yang ideal dan rambutnya yang tebal dan hitam sehingga ia pernah ditawarkan menjadi model iklan shampoo, tetapi ia menolak. Dia tumbuh menjadi seseorang yang pintar dan cerdas.  Menghitung dan bahasa Inggris yang menjadi pelajaran favortinya. Ketika ia masuk Sekolah Menengah Atas, ia mendapatkan kehidupan remajanya yang tidak terlalu baik. Ia harus dihadapkan dengan proses hijrah yang sangat berliku. Karena kecantikannya, tidak jarang laki-laki mendekatinya; mulai dari yang satu kelas hingga kakak kelas yang juga dikaguminya. Namun itu semua berjalan berlalu setelah ia bertemu dengan wanita yang sudah mengenal agama lebih dulu darinya.

Ketika proses hijrah dimulai dibangku SMA, ia mengumpulkan uang untuk membeli sehelai kerudung putih untuk digunakannya ke sekolah. Ketika ia sudah memiliki kerudung tersebut, tantangan justru semakin mengancam dirinya. Orang tuanya melarang keras gadis itu memakai kerudung hingga mendapat ancaman akan dibakar kerudung hasil jerih payahnya menanbung untuk mendapatkannya. Gadis itu memutuskan untuk melepas kerudungnya. Ini merupakan hal tersulit; setelah kejadian tersebut, ia lebih sering berangkat ke sekolah ditemani ibunya melewati pasar. Saat ia berpisah dengan ibunya di pasar, gadis itu pergi ke toilet umum untuk menggunakan kerudung yang bawanya di dalam tas lalu bergegas menuju sekolah. Selain itu, ia sering sekali diam-diam pergi ke suatu tempat mengaji yang biasa disebut halaqoh.

Gadis itu beranjak dewasa. Ibu dan bapaknya memutuskan untuk menikahkan dia dengan sorang laki-laki dengan menjodohkan, padahal orang tuanya belum sangat mengenal sosok laki-laki tersebut. Dengan niat untuk berbakti kepada orang tuanya, gadis itu menerima perjodohan ini. Awal setelah pernikahan, terlihat dengan jelas sikap dan kepribadian laki-laki yang telah menjadi suaminya. Ini adalah hal yang paling menyakitkan ketika dia menceritakan, sehingga hanya Allahlah yang menjadi saksi hidupnya hingga hampir 20 tahun pernikahan. Tidak sedikit sekali dia mendapatkan kekecewaan dari suaminya.

Dia dikaruniai empat orang anak; dua laki-laki dan dua perempuan. Ketika dirasa perekonomian yang kurang mencukupi kebutuhan keluarganya, ia mulai membernaikan diri untuk mengajar private setelah dia lolos sertifikasi Al-Qur'an yang diikutinya di sebuah komplek perumahan dan tak terputusnya halaqoh yang dijalaninya saat SMA.

Dia dan suaminya memiliki jauh perbedaan. Dia harus bertahan pada kegiatan-kegiatan islam dan dakwahnya disaat kondisi suami yang tidak mencerminkan keteguhan hatinya dalam mendekatkan diri pada Allah. Hingga pada suatu hari, Allah memberikan jalan keluar dari kesabarannya. Setelah beberapa lama menunggu panggilan mengajar, Allah berikan kesempatan kepadanya untuk mengajar di Sekolah Islam Terpadu menjadi guru Al-Qur'an dan tetap menjalankan menjadi guru private. Uang penghasilannya membantu memenuhi kebutuhan anak-anaknya sehingga suaminya merasa cukup dengan gaji istrinya yang menjadikan dia merasa aman.

Karena kegigihannya dalam memperbaiki kondisi keluarga, dia mendaftarkan diri untuk melanjutkan kuliah S1 di Universitas Swasta di Bogor. Merupakan program beasiswa dari Kementrian Agama untuk guru-guru mata pelajaran agama yang belum memiliki gelar sarjana pendidikan. Kesempatan itu diambi olehnya dan dijalankan dengan baik. Kecerdasannya kembali diasah di bangku perkuliahan walaupun dalam kondisi sudah memilik empat orang anak. Diumur yang tidak muda lagi, dan kegiatan yang menumpuk, yaitu sebagai pendidik dan orang tua, dia masih giat mencari sumber buku untuk tugas kuliahnya, pergi ke rumah dosen untuk sharing, dan bahkan dia termasuk orang pertama dengan beberapa mahasiswa kalangan muda yang berhasil menyelesaikan skripsinya.Saat wisuda adalah saat yang membahagiakan baginya dan anak-anaknya. Setelah mendapatkan gelas Sarjana Pendidikan, ia mendaptkan jam mengajar lebih banyak dan itulah yang sangat membantu perekonomian keluarga sehingga dia mampu membeli sepeda motor untuk keperluan mobilitas mengajar privatenya.

Anak pertama dari dia dan suaminya adalah sosok gadis yang cerdas dan pemalu. Ia sangat mewarisi kecerdasan dari ibunya, sehingga beberapa kali anak gadisnya mendapatkan Juara Umum di Madrasahnya. Saat anak gadinsya menginjak kelas 3 Aliyah, kondisi keluarga mereka memburuk. Ketika Allah mentakdirkan untuk menyelesaikan hubungan dia dengan suaminya. Suaminya pergi tanpa kabar tujuanya. Namun dirinya beserta ke-empat anaknya tidak pernah mengkhawatirkan, karena anak-anaknya merasa ibunya adalah sosok yang dapat memenuhi kebutuhan sebagai ibu dan ayah.

Anak keduanya hanya berbeda dua tahun dengan anak pertamnya. Dia adalah sosok yang tegas dan lebih pemberani daripada kakaknya yang diam. Ketika kondisi ibunya sedang sulit dalam mengatur keuangan keluarga, dia tetap optimis untuk bisa kuliah di Universitas Negeri. Dia adalah sosok gadis pemberani yang sangat mencintai keluarga yang sudah tidak utuh lagi. Tahun di mana dia lulus Aliyah dia masuk Universitas Negeri jurusan yang diminatinya berbarengan dengan kakaknya yang masuk Pondok Tahfidz Al-Qur'an dengan beasiswa penuh.

Anak kedua yang pemberani itu, berjuang mendapatkan biaya untuk daftar ulang Univeristas dengan membuat proposal diri dan memohon restu dari ibunya. Atas izin Allah dia mendapatkan dua per tiga dari biaya kuliahnya dan setelah menjalani setengah semester dia mendapatkan beasiswa dan dikembalikannya uang yang telah masuk diawal.

Anak ketiganya adalah laki-laki. Ia memiliki rasa empati yang tinggi. Kelahirannya ketika orang tua mereka sedang berada pada kondisi perekonomian yang merosot. Selain memiliki empati yang tinggi, ia adalah laki-laki yang kokoh karena pada masa yang akan datang, setelah ia beranjak dewasa dia menjadi pertahanan keluarga menggantikan sosok seorang ayah.

Anak ke-empatnya adalah sosok laki-laki yang cerdas dan baik hatinya.

(to be continue)

Jumat, 10 November 2017

Jika Aku Futur, Jangan Tinggalkan Aku!




 Umar bin Khathab radhiallahu’anhu mengatakan: “tidaklah aku mendapat nikmat yang lebih baik dari nikmat keislamanku selain nikmat memiliki saudara (semuslim) yang shalih. Jika kalian mendapatkan hangatnya persahabatan dari saudaramu sesama muslim, maka peganglah erat-erat hal itu."

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dalam Al-Qur'an surat Hud ayat 12 Allah SWT berfirman yang artinya: "Maka tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagai mana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersama kamu. Dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kalian kerjakan." 

Sahabat, pernah mendengar kata Futur? 

"Pada satu waktu, ketika sedang merasakan futur karena lelahnya agenda yang padat merayap; mulai dari tugas organisasi, akademik, dan mengajar, diri ini terasa sangat lelah dan muak dengan agenda-ageda tersebut. Rasanya ingin keluar dari semua grup di Whatss App" 

"Saat bulan Ramadhan tiba, aku sangat bergiat dalam menambah amalan yaumiyyah. Yang biasanya tilawah satu hari satu juz, saat Ramadhan minimal sehari 3 Juz. Diawal Ramadhan tilawah aku berjalan lancar, tetapi saat diakhir aku malah malas, dan terpikirkan kalau aku masih ada pahala saat membaca tiga juz dalam sehari yang pernah lalu" 

"Sekarang aku lebih sibuk sama tugas akademikku. Muroja'ah hafalan males."

Berbagai macam cerita kerabat dan tentunya yang dialami diri sendiri banyak macamnya, terutama yang dialami oleh pribadi: Amanah yang katanya lillah ko malah jadi bikin lemah? Itulah alasan mengapa kita harus selalu meng-upgrade niat dan memperbaharuinya setiap saat. 

Futur? Apa itu futur?
Sejak aku mentoring di perkuliahan, aku baru mengenal makna futur, padahal sejak dulu secara tidak langsung  diriku sering dilanda futur. Hanya saja belum mengenal kata futur. Futur yang aku fahami artinya, secara sederhana adalah kondisi dimana seseorang berada pada titik malas, jenuh, tidak nyaman dengan suasana hati yang biasanya dimulai dari ibadah yang kendor dari awal yang ibadahnya getol; karena kelelahan jadinya molor. Saat dilanda kefuturan, betapa sulitnya untuk membangkitkan kembali semangat menjalankan amalan yaumiyyah. Oleh sebab itu, saat aku futur aku mencari solusi dari orang sekitarku. Aku membuat status Whatss App: "Bagai mana cara kamu mengatasi futur? Share dong!" 

Saat aku menghadiri acara konsolidasi Solidaritas Peduli Jilbab batch 5 JaBoDeTaBek di sekolah alam, Bogor aku mendapatkan ilmu tentang futur: "kalau futur jangan mundur, nanti malah babak belur!" dan solusi sederhananya adalah jangan berdiam diri! Kita bisa ceritakan pada teman terdekat kita tentang kondisi kefuturan, agar ada yang mengingatkan. Bukan malah mengasingkan diri jauh dari pergaulan teman-teman. Itulah alasan kenapa aku mencoba untuk bertanya melalui status WA, dan Alhamdulillah tidak sedikit yang merespon. Kebanyakan dari mereka malah balik menceritakan pengalaman saat mereka futur dan solusi yang mereka lakukan untuk mengatasinya. Nah, di sinilah aku ingin berbagi hasil dari obrolan santai aku dengan teman-teman tentan penanganan futur.

Ada yang ketika futur ingat ayat Al-Qur'an surat Muhammad ayat 7: "Wahai orang-orang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." Maa Syaa Allah ya, saat futur saja ingatnya ayat Al-Qur'an! Jadi penasaran, segetol apa ibadahnya saat tidak futur hehe. Memiliki sahabat yang salih juga merupakan cara agar istiqomah kita terjaga, maka temanku yang satu ini menjadikan teman di sekitarnya menjadi motivasi agar tetap terjaga dalam kebaikan.  

Bahkan nih, aku memaksa salah satu teman untuk menjawab pertanyaanku, dan katanya, "sampai saat ini aku belum tau jawabannya. Kita punya pertanyaan yang sama." Parah! Parah banget! saking futurnya aku gak tilawah dalam sehari satu juz pun! "Ay, kadang aku suka sebel sama diriku sendiri!" (maklum ya, tau kan kalau sesama perempuan kalau udah jauh kenal manggilnya 'ay', 'beb', 'say' beda sama laki-kali haha abaikan). "Aku jarang bangun tahajud, karena suka tidur kemaleman. Itu yang aku benci banget!" dan dia pun sadar, katanya: "Tau ga sih, kita bakal ngadepin akhirat yang perjalanannya bener-bener panjang. Aku takut." 

Temanku ini, saat dia futur pernah bermimpi yang membuatnya sangat takut dengan ancaman Allah. Saat itu dia benar-benar diperlihatkan di mana manusia  'dicemplungkan' pada api yang sangat panas. "Entah itu gambaran di mana, tapi aku merasa takut dengan akhiratku nanti." Mungkin itu merupakan teguran dari Allah, dengan cara itulah dia bisa bangkit dari kefuturannya. Beruntung sekali Allah mengingatkan hamba-Nya agar tetap pada jalan kebaiakan, tapi seringnya manusia 'bandel' sama titah-Nya dan rasul-Nya. 

"Kalau lagi futur gue inget jaman-jaman gua baru hijrah. Apa alasan gua bisa senikmat itu bermunajat kepada Allah? Tapi lumayan butuh waktu sih buat bangkit." Memang ya sahabat, hijrah lebih mudah daripada istiqomah. Ada tipe temanku yang pendiam. Dia bilang kalau mau cerita ke temannya ketika dia lagi futur merasa percuma, karena dia tau temannya sedang berada pada posisi yang sama; futur! "Seharusnya sih gua yang bisa jadi orang yang ngajakin jangan jadi yang diajak mulu. Tapi apa daya, gua orangnya pendiam." Dan diakhir percakapan kami, dia memberikan closing steatment: Kita harus intropeksi diri, siapa tau ada do'a kita yang salah. Seringnya kita meminta dipertemukan dengan teman yang mengajak kebaikan bukan sekaligus yang membuat kita istiqomah. "Gue punya banyak temen yang ngajak gua pada jalan kebaiakan, tapi.." Tapi yang mengajak untuk Istiqomah, menurutnya belum dia temukan. 
  
"Allah sudah kasih hidayah. Salah satu hidayahnya adalah taufik. Kalau kamu futur mulu, gimana mau jemput taufik?"
 Nah, ada jawaban berbeda nih dari salah satu teman yang respon dari status WA. "Bagai mana cara kamu bangkit dari futur?" jawabannya adalah, "Makan yang enak-enak yang aku suka dan biasanya rela gak liat harga." Dia pun menambahkan, cara untuk merasa lebih baik dari kefuturan adalah mandi komplit; sikat gigi, facial, keramas, dan body soap.  Dengannya aku bercerita kondisiku yang lelah, tapi anehnya: "Pernah gak sih kalau bilang cape, terus ditanya kenapa merasa cape, tapi kita gak tau kenapa bisa cape?" Nah, setelah dipikir ulang olehnya, kita terlalu cape karena terlalu banyak tuntutan yang akhirnya jadi males untuk melakukan apapun. Tentang tuntutan, tapi aku merasa tuntutan itu datang karena diri sendirilah yang mengundangnya untuk datang: itulah dilemanya! Sering kali, kita terlalu memporsir diri dengan hal yang sebenarnya diri sendiri pun tidak sanggup melakukannya karena masih ada hal yang lebih penting yang harus segera diselesaikan. Dan nasihat darinya, "sabar! Kamu hanya butuh pelampiasan yang tepat."

Pernah pada suatu hari, di kosan (sendirian) berada pada kejenuhan. Buka handphone bosen, baca buku males, mau tidur gak ngantuk, tilawah merasa berat untuk memulai, dan pada akhirnya aku memutuskan untuk keluar kosan dan makan makanan kesukaan yang biasanya makan bareng Ummi di rumah. Ya, memang ada rasa tersendiri saat makan, walaupun makan sendiri sih, gak sama Ummi hahaha. Setelah makan dan sampai kosan terpikirkan untuk melakukan sesuatu yang sejak lama diniatin (selama ini baru niat ya, eh tapi gapapa kan niat juga berpahala wkwkw). Melakukan sesuatu yang meningkatkan mood setelah makan, jadi tilawahnya dimulai saat setelah selesai membuat 'tugas pribadi' dan malah setelah itu menggarap beberapa tugas pribadi sampai bablas gak tidur. 

Jadi, memang setiap orang punya cara untuk mengatur dirinya. Awalnya memang sulit menemukan ruang untuk diri sendiri tetapi ketika sudah menemukan ruang itu masalah seberat apapun akan mudah diterima, ya walaupun cukup menerima (dulu), setelah itu kita harus menyadari bahwa ada teman yang mau untuk menjadi tempat berbagi. "Nikmati saja dulu kefuturanmu, tapi jangan lama-lama nikmatinnya karena akan ada banyak hal istimewa yang terlewatkan."

Perbanyak berdo'a kepada Allah yang Maha Membolak-balikan hati hamba-Nya: "Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbii 'alaa diinik wathoo'atik." Dan jangan sampai, ada waktu kendor yang setan bisa masuk merusak waktu. Jangan jauhkan diri dari teman-teman yang salih, yang mereka tidak akan meninggalkanmu dalam kondisi apapun. 


"Waktu aku futur, aku bilang sama sahabat taatku. Aku jujur saja kalau aku futur, dan dengan sigap dia menopang diriku. Mengorek-ngorek penyebab kefuturanku, dan memutuskan tali penyebab itu sehingga aku bisa menyadarinya. Karena sering kali, kita sulit mengetahui permasalahan diri kecuali orang lain yang menunjukannya."

Futur merupakan hal yang manusiawi. Jangan terlalu cemas dengan kefuturan, karena dengan mencemaskan kefuturan sulit menemukan jalan keluar. "Kamu punya mereka, kamu punya diri sendiri yang mampu memahami dirimu. Mulai sekarang, kamu harus buat target-target kecil bermanfaat setiap harinya." 

Katakan pada sahabat shalihmu, "Jika aku futur, jangan tinggalkan aku!"